Langsung ke konten utama

Mengintip Pesona Indahnya Pangandaran


Mendengar kata Pangandaran yang terbersit dalam pikiran saya adalah sebuah pantai yang cukup terkenal di Indonesia. Menjadi sebuah “ikon” di daerah tersebut. Bukan lagi pantai baru yang marak dibuka akhir-akhir ini.

Pantai ini terletak di Kabupaten Pangandaran yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Ciamis. Ibukotanya ada di Parigi. Daerah Ciamis dimekarkan menjadi tiga kabupaten. Bahasa yang digunakan masyarakat Pangandaran adalah Bahasa Jawa halus, Bahasa Sunda dan Bahasa Indonesia. Tipikal orang Ciamis memiliki jiwa perantau. Masing ingatkah zaman dulu pedagang “mendring?.” Mereka keliling menjajakan minyak goreng dengan cara dicicil. 

Piknik kali ini kami mengunjungi tiga lokasi di Pangandaran yakni Pantai Batu Karas, Green Canyon dan Pantai Pangandaran. Semua bertemakan air. Dengan biaya 325.000 yang dikelola sebuah biro. Jadi tidak mikirin konsumsinya nanti gimana, tinggal gass saja, hehe.




Perjalanan dari Sragen pada Sabtu 5 oktober 2019 pukul 20.00 WIB. Beberapa kali bus berhenti untuk memberi kesempatan penumpang yang akan buang air.


Waktu subuh, bus berhenti di sebuah masjid di Cilacap. Saya pikir sudah mau sampai tujuan karena ada pohon kelapa yang menandakan daerah pesisir. Ternyata tebakan saya salah. Kami harus menikmati perjalanan lagi sekira dua jam. Melewati bukit berkelok-kelok yang cukup panjang.
Tiba di sebuah gapura bertuliskan “Pantai Pangandaran.” Tapi bus kami belok kanan menuju Pantai Batu Karas. Terdapat ruko berjejer-jejer yang sedang dibangun. Ini seakan menandakan sebuah kota yang berada di pesisir pantai. Berbeda dengan beberapa pantai lain yang posisinya bukan di pusat kota.

Warga Bangun Asri Rt 16



1.Pantai Batu Karas

Sekitar pukul 07.00 WIB tiba di Pantai Batu Karas. Sesampai di sana kami langsung menuju sebuah “Restoran Sederhana.” Berhubung masih menunggu disiapkan menu makanan, saya ambil kesempatan untuk memfoto tulisan “Batu Karas” sebagai penanda sudah pernah ke sini.

Menu sarapan ini cukup memuaskan untuk lauknya seekor ayam goreng, tempe mendoan, tahu goreng, ikan goreng dipotong kecil-kecil, sayur soup, kerupuk, sambal, buah jeruk, teh hangat dan air mineral. Dari segi rasa juga lumayan. Sssttt... jangan nanya apakah saya hanya makan buah dan minum air putih karena sudah praktek menu JSR? Gapapalah hari ini “cheating” kan ga tiap hari, hehe.






  


Setelah sarapan para peserta dibebaskan untuk menikmati pemandangan pantai. Saya duduk di sebuah tikar bersama teman-teman yang lain. Tak berapa lama saya memilih beranjak mendekati bibir pantai. Tampak pantai sudah ramai dengan pengunjung.









Ciri Khas Pantai Batu Karas

Salah satu ciri khas dari pantai ini adalah permainan selancar. Banyak anak muda bahkan turis asing menyempatkan bermain selancar. Posisi pantai berada di teluk diapit oleh dua karang menjadikan ombaknya tidak terlalu besar dan berirama.



Seorang turis usai berselancar

Persiapan naik banana boat 


Naik banana boat


Tampak papan-papan selancar disewakan. Ada juga yang buat untuk anak-anak. Selain itu fasilitas naik banana boat. Untuk sekali main dikenai biaya 300.000 untuk tujuh orang. Peserta dipinjami pelampung. Ada juga speed boat. Pantai ini memang asyik untuk bermain. Lebih digemari kalangan anak muda.









Di sebelah kanan pantai terdapat batu karang. Terdapat spanduk peraturan waktu berenang pukul 06.00-17.00 WIB. Jenis pasir di sini berwarna abu-abu. Setelah dirasa cukup sekitar pukul 09.00 kami meninggalkan lokasi menuju Green Canyon.











2.Green Canyon atau Cukang Taneuh

Ketika biro perjalanan menyampaikan tujuan wisata berikutnya adalah “Green Canyon.” Pikiran saya langsung melayang pada sebuah tempat wisata bernama “Grand Canyon of Colorado” yang terletak di negara Amerika Serikat. Memang saya belum pernah ke sana. Tapi pernah melihat tayangan TV yang menampilkan keindahan  tempat wisata tersebut.

Wah jangan-jangan keindahannya mirip dengan “Grand Canyon of Colorado?”, batin saya. Ternyata penulisannya beda yang satu “green” yang satunya “grand.” Maklum pendengaran saya kurang pas saat mendengar penjelasan dari pihak biro sehingga keliru, hehe.








Sepanjang perjalanan sesekali menemui tanaman mirip pohon salak tapi batang, daunnya besar-besar dan tidak memiliki buah. Beberapa batang pohon sudah dipotong. Sepertinya tanaman ini sengaja ditanam entah untuk diambil batang atau daunnya.










Ciri khas Green Canyon

Di Green Canyon atau Cukang Taneuh merupakan satu-satunya tempat wisata yang mengharuskan pengunjung naik perahu. Sebenarnya tidak masalah jika tak naik naik perahu, hanya saja kita tidak akan mendapatkan pengalaman apa-apa. Hanya melihat sungai berwarna hijau yang dipinggirnya berjejer perahu-perahu biru. Memang tempat wisata ini tujuannya untuk susur sungai dengan naik perahu yang menjadi ciri khas dari Green Canyon. Jadi jika ke sini tidak menggunakan jasa biro, sebaiknya siapkan uang lebih agar dapat naik perahu.

Kami menyusuri Sungai Cijulang. Sungai ini bernama hijau. Mungkin ini menjadi salah satu sebab dinamai “green.” Berhubung kami ikut biro jadi sudah termasuk biaya dalam paket, tinggal naik perahu saja.











Setiap perahu hanya boleh diisi enam penumpang dan dua orang yang mengendalikan perahu. Setiap penumpang harus antri satu persatu untuk diatur petugas saat naik perahu.

Pelan-pelan perahu berjalan menyusuri sungai. Sungai ini cukup tenang, tidak berarus deras sehingga membuat kami nyaman. Hanya saja sempat terbersit jika air tenang menjadi tempat tinggal buaya. Saya pun bertanya kepada petugas perahu. Kata mereka di dalam air paling hanya ada ikan sama biawak. Penjelasan ini membuat hati tenang. Tidak takut saat memasukkan tangan ke dalam air.















Pemandangan begitu indah. Di kanan kiri sungai dikelilingi pohon-pohon. Jadi tidak terasa panas. Perjalanan cukup jauh juga hingga tiba di sebuah gua. Tetesan-tetesan dari atas gua membasahi bebatuan. Suasana semakin gelap. Di sini merupakan ujung dari perjalanan menyusuri sungai. Jika penumpang ingin ke atas berenang dikenai biaya tambahan 100.000 per perahu. Tapi berhubung kami tidak niat basah-basahan di Green Canyon jadinya tidak berenang. Sebab nanti masih ada tujuan wisata pantai lagi.








Perahu mengubah arahnya untuk kembali. Saat keluar dari gua, di sebelah kanan tiba-tiba ada seekor biawak berdiam diri di atas sebuah batu. Benar juga kata mas petugas perahu kalau di sini ada 
biawak.



Sampai di ujung sungai


Tetesan air dari langit-langit gua




Seekor biawak berdiam di atas batu 



Perjalanan pulang kami masih menikmati indahnya suasana. Meski di pinggir sungai ada pepohonan, sebagian ada pemukiman penduduk.

Di pinggir sungai ada pemukiman penduduk


Tibalah kami ke tempat semula. Rasa puas sudah menyusuri sungai dengan perahu. Bagi yang ingin ke Green Canyon berikut daftar biayanya:
Paket biasa (tanpa renang), waktu 45 menit Rp 200.000,-/perahu
Paket renang, waktu + 30 menit di Batu Payung Rp 300.000,-/perahu
Paket renang waktu + 1 jam di Pemandian Putri Rp 400.000,-/perahu.

Daftar biaya 


Lokasi parkir ada di seberang jalan. Di sekitar parkiran banyak penjual oleh-oleh, souvenir dan rumah makan. Silakan bisa mampir ke sana.


Parkiran kendaraan 




3.Pantai Pangandaran

Tibalah saatnya tempat wisata yang ditunggu-tunggu yang menjadi “gong” piknik kali ini. Pantai Pangandaran dibagi menjadi dua, pantai barat dan pantai timur. Kami hanya mengunjungi pantai barat saja.

Bus melewati pintu masuk dan terus melaju cukup jauh hingga di parkiran paling ujung dekat dengan batu karang. Di sisi kanan adalah pantai, sementara di sisi kiri bangunan berupa hotel-hotel bertingkat, ruko-ruko dan pasar.

Awalnya saya mengira Pantai Pangandaran juga seperti pantai pada umumnya. Seputaran di pantai Yogya yakni Bantul dan Gunung Kidul sudah sering saya kunjungi. Bahkan dulu hampir tiap tahun liburan lebaran selalu ditutup makan-makan ke pantai.






Tapi meski sudah biasa lihat pantai. Kali ini saya takjub. Lantaran di sekitar pantai berdiri bangunan yang lumayan megah. Rata-rata hotel berlantai dua atau tiga.

Saya menganggap Pantai Pangandaran adalah pantai modern. Pusat kota ada di pesisir pantai sehingga jantung perekonomiannya ada di sini. Nampak keramaian orang dengan beragam aktivitas.





Berbeda dengan pantai di Yogyakarta yang mana pesisir bukanlah pusat kota. Pesisir pantai dengan pusat kota Bantul, Yogya berjarak sekira 15 km. Jadi denyut nadi perekonomian bukan di pesisir. Daerah pesisir hanya sebagai tempat wisata saja.

Pantas saja banyak orang yang ingin berkunjung ke Pantai Pangandaran bukan hanya untuk menikmati desiran ombak pantai. Tapi juga juga aktivitas lain yang dapat menunjang perekonomian. Disuguhi fasilitas seperti pasar, ruko-ruko modern, perumahan dan lain sebagainya.





Ciri Khas Pantai Pangandaran

Pantai Pangandaran berada di pantai lepas, ombaknya cukup besar. Di bibir pantai berjejer perahu-perahu biru yang siap disewakan. Terdapat hutan lindung dan gua Jepang. Di dalam hutan ada banyak monyet. Di bagian tempat wisata Pasir Putih airnya bening cocok untuk menyelam.

Tiba di parkir bus pukul 13.00 WIB. Kami diberi waktu hingga pukul 15.00 untuk mengelilingi pantai. Setelah turun dari bus, saya langsung menuju masjid untuk shalat dhuhur sekaligus menjamak shalat ashar.

Sekira pukul 13.00 selesai shalat kami menuju pantai. Sebelumnya saat di dalam bus kami sudah diberitahu oleh pihak biro, kalau mau naik perahu sebaiknya lewat biro saja karena biaya lebih murah. Biasanya dikenai biaya 30 ribu sampai 40 ribu. Tapi jika lewat biro bisa hanya 25 ribu per orang.








Waktu itu kami belum bisa memastikan apakah naik perahu atau tidak. Jadi tidak ada satupun yang mendaftar ke biro. Begitu kami berkumpul di bibir pantai, bapak-bapak jasa naik perahu satu persatu mendekati. Menawari naik perahu hanya 15.000 sampai pasir putih. Setelah itu berjalan menikmati hutan lindung balik lewat pintu keluar di dekat sini. Kalau mau diantar pulang biayanya 20.000. Tapi janjian dulu kira-kira bisa ditunggu atau ninggalin nomor WA.

Mendengar kata 15.000 saya langsung berpikir ini jauh lebih murah ketimbang yang ditawarkan biro yang katanya 25.000. Ah tanpa pikir panjang kami ambil tawaran itu.
Setiap perahu hanya boleh diisi maksimal 10 orang ditambah 1 orang bapak pengendara perahu. Tanpa ba bi bu kami langsung naik perahu. Lalu mengenakan pelampung. Bapak yang mengendarai perahu menjelaskan seputaran hal-hal yang dilewati.








Tiba pada sebuah kapal yang terguling. Ini merupakan kapal asing yang mencuri ikan di wilayah Indonesia. Oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti kapal tersebut digulingkan untuk memberi efek jera.

Bangkai kapal dibiarkan berada di bibir pantai sebagai bukti atas peristiwa tersebut. Justru keberadaan kapal ini menjadi pemandangan menarik wisawatan.

Di dekat kapal ada lokasi wisata Pasir Putih. Ini pertanda bahwa kita sudah selesai naik perahu. “Wah kok cepet banget,” batin saya. Bapak tadi menawari untuk lanjut ke tempat wisata berikutnya. Kata dia di sana ada tiga tempat wisata yang masing-masing dikenai biaya 10.000.






Kapal asing yang digulingkan Ibu Susi Pudjiastuti





Kami menawar 25.000 ribu sampai sana. Tersebab kata pihak biro bisa 25.000 jadi tinggal nambah 10.000 per orang. Bapaknya alot. Dia menyarankan untuk masalah harga ngikut sama perahu yang ada di depan. Kami keberatan. Sempat “eyel-eyelan.” Kami kekeuh 25.000 tapi si Bapak ga mau.

Kami ngasih opsi terakhir 30.000. Jika tidak mau, minta balik saja. Awalnya Si Bapak masih kekeuh. Tapi kami membujuk royokan. Akhirnya Si Bapak mau, hehe.

Kejadian ini bisa jadi pengalaman, jika piknik menggunakan biro sebaiknya saat naik perahu mendaftar ke petugas biro saja agar dapat harga murah. Kalau langsung dari pihak jasa perahu bisa “dithuthuk” harganya. Biasa mereka mencari kesempatan para wisatawan yang belum tahu menahu tempat tersebut.





Saat naik perahu saya mengira semakin ke tengah pantai ombak semakin tenang. Tapi ternyata tidak. Justru gelombang ombak semakin besar.

Si Bapak terus menjelaskan satu persatu tempat wisata. Sembari menunjuk-nunjuk batu karang. Yang pertama, sebuah karang yang pada waktu-waktu tertentu digunakan sebagai tempat menaruh sesaji saat ritual upacara.

Kedua, Gua Kelamin. Di karang tersebut ada lubang kecil yang orang-orang biasa menyebut Gua Kelamin. Katanya ada orang gila ketika dimasukkan ke gua tersebut terus sembuh. Pas lihat gua itu, dahi saya mengernyit, cuma lubang kecil di karang aja disebut gua.






Ketiga, karang berbentuk kodok. Mulanya saya bingung mana sih karangnya. Oh itu. Kalau itu bisa jadi karang utuh lalu terkena air terkikis membentuk mirip kodok.

Keempat, orang mancing. Saya mencari-cari mana nih orang mancingnya ga ketemu juga. Dari jauh mungkin kelihatan orang mancing tapi kalau didekati bisa jadi tidak berbentuk orang mancing.

Mulanya saya pikir perahu bakal menepi dan melihat sebuah objek wisata. Ternyata tidak. Hanya disuruh lihat karang, lalu dia cerita yang dibumbui dengan mitos-mitos lalu disangkutpautkan dengan bentuk karang tersebut.







Apa yang dijelaskan Si Bapak sebenarnya tidak ada yang spesial. Hanya saja, saya jadi bisa merasakan naik perahu berada di tengah laut. Bagaimana rasa deg-degan dan takut terombang-ambing ombak. Jadi enggak nyesel nambah biaya dikit buat naik perahu.

Pengalaman naik perahu, semakin ke tengah ombaknya semakin besar. Perahu goyang-goyang seperti mau “numplek.” Apalagi perahu ukurannya kecil, mungkin kalau ukurannya besar lebih nyaman. Air laut masuk ke perahu hingga membasahi tas dan pakaian. Sebagian dari kami merasa takut. Oleh karena itu kami memilih balik saja tidak melanjutkan perjalanan.


Pasir Putih dan Hutan Lindung


Kami meminta berhenti di Pasir Putih agar bisa melihat hutan lindung. Ada yang menarik di seputaran Pasir Putih. Airnya bening, tempat yang asyik untuk menyelam. Di sana sudah ada penyewaaan pelampung dan alat untuk snorkeling.


Pasir Putih 


Di Pasir Putih ada pintu masuk ke hutan lindung. Kami berhenti sejenak untuk menghilangkan rasa capek usai naik perahu.

Ada sebuah tugu putih yang memberikan informasi tentang Gua Jepang. Di hutan ini ada beraneka ragam pohon.

Saya hanya menemui dua Goa Jepang. Katanya sih ada tiga. Gua ini dibuat pada masa pendudukan Jepang tahun 1941-945 atau periode Perang Dunia Kedua melalui kerja paksa. Gua terbentuk dari beton yang tertimbun tanah. Fungsinya sebagai benteng pertahanan dan gudang amunisi.


Tugu Gua Jepang







Gua Jepang




Bagian depan terdapat parit-parit. Tapi sayangnya saya tidak menemui parit tersebut, mungkin sudah tidak ada. Menyebut kata goa saya pikir lubangnya panjang. Tapi ternyata hanya sekitar 3-4 meter.

Pada zaman duhulu, gua ini sebagai tempat benteng pertahanan. Ga bisa bayangin jika malam hari apa tidak seram. Di zaman modern ini saja, hutan ini agak mengerikan. Apalagi zaman dahulu yang tidak ada penerangan lampu, jumlah orangnya masih sedikit. Kok ya berani tinggal di sini.

Hutan lindung ini cukup pendek, tidak sampai 30 menit sudah mau turun. Eit tapi, di bawah sudah disambut banyak monyet. Ada pengunjung yang bawa plastik putih langsung disambar sama si monyet. Mungkin dikira monyet itu isinya makanan. Orang itu menjerit kaget sekaligus takut.









Sama si monyet masih terus “dikekep.” Untung ada orang yang berani bantuin. Akhirnya monyet melepas plastik tersebut. Si monyet kecewa kali setelah dibuka plastiknya isi sepatu, haha.

Kami terus menyusuri jalan di tepi pantai. Masuk lagi ke hutan. Di sini juga ada banyak monyet. Harap berhati-hati. Sampai di sebuah pos penjaga kami bertanya, “Kalau ke sana ke mana Pak?”. “Kalau ke sana ke Pantai Timur.” Beruntung nanya dulu karena tujuan kami mau keluar. Berarti jalannya tidak lurus tapi belok kiri menaiki tangga. Akhirnya sampai juga di pintu keluar.











Pintu keluar


Usai dari Pantai Pangandaran, bus sengaja melewatkan di depan rumah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Untuk sekelas menteri rumahnya tidak terlalu mewah tapi tergolong bagus. Di depan terdapat pos satpam yang bertuliskan “Susi Air.”

Sekira 30 menit tiba di pusat oleh-oleh bernama “Owen” sekaligus makan sore. Makanan khas daerah sini adalah peyeum sejenis tape singkong. Satu kilogramnya dihargai Rp 18.000. Kalau tape singkong sebenarnya hampir tiap daerah sudah ada. Tapi namanya oleh-oleh ya tidak apa-apa dibeli.

Rumah Bu Susi Pudjiastuti 







Sekitar pukul 17.00 bus melanjutkan perjalanan. Pukul 20.30 tiba di sebuah rumah makan di Banyumas. Di sana kami tidak makan lagi, tapi untuk sholat maghrib, shalat isya dan buang air. Ada penjual gethuk goreng Sokaraja sekilo dihargai Rp 32.000. Setelah shalat kami melanjutkan perjalanan lagi, tapi sayangnya ada jalan yang sedang dicor sehingga macet lama. Yang diperkirakan jam 02.00 sudah sampai rumah tapi ternyata pukul 03.45 baru sampai rumah. Tapi alhamdulillah pulang dengan selamat.

Kalau sedang piknik sebaiknya kita ikut terlibat langsung dalam aktivitasnya agar bisa memberi kesan. Apalagi jika baru pertama kali ke objek wisata tersebut. Misalnya saja coba naik perahu agar dapat merasakan sensasinya. Seperti deg-degan, takut dan takjub. Dan itulah pengalaman yang paling berharga. Jangan hanya duduk melihat-lihat saja. Terkecuali jika sudah kedua kali ke tempat wisata itu. Memang untuk menggunakan sebuah fasilitas pasti merogoh kocek lebih. Tapi tidak mengapa kan piknik tidak tiap hari, hehe.

Itu tadi perjalanan ke Pangandaran. Semoga informasi ini bisa memberi manfaat.





Pusat oleh-oleh dan resto Pangandaran







Komentar

  1. Mantab mbk.
    Pengin ikut nulis tapi belum kesampaian. Penataan tulisan dg gambar belum begitu paham. 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo mbak semangat nulis. Saya cuma otak-atik sendiri aja. Ini juga masih pemula dan belajar di dunia blog.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengunjungi 3 Lokasi Wisata di Semarang

Setiap ada liburan panjang saya biasa gunakan untuk berkunjung ke salah satu tempat wisata. Namanya bepergian pasti membutuhkan waktu, biaya dan fisik yang kuat. Kalau saja pikniknya sampai seharian, sementara besok bekerja, dikhawatirkan tidak masuk kerja karena kecapaian. Maka dari itu gunakan musim liburan ini untuk jalan-jalan. Liburan lebaran tahun kemarin kami pergi ke Demak dan Kudus. Nah, kali ini milih ke Semarang karena memang sudah menjadi keinginan tahun lalu tapi baru terealisasi sekarang. Sebenarnya tidak ada perencanaan matang untuk ke sana. Hanya spontanitas saja. Sejak awal suami ingin ke Masjid Agung Semarang. Mulanya saya agak kurang tertarik. Paling masjid juga gitu-gitu saja. Sebab sudah sering sekali kalau bepergian mampir ke masjid yang dilewati untuk sholat. Tapi akhirnya ikut pilihan suami. Dari Sragen kami berangkat pukul sembilan pagi. Memilih rute Purwodadi-Demak. Arah ini jalannya memang tidak terlalu besar, hanya terdiri dua lajur. Kelebihannya...

Memanfaatkan Biskuit Dibikin Bola-Bola Coklat

Halo Sahabat semuanya, kali ini saya mau berbagi mengenai pengalaman memanfaatkan biskuit yang kurang digemari keluarga dibikin bola-bola coklat. Namanya selera setiap orang beda-beda ya. Ada yang suka dengan rasa durian ada yang tidak. Nah, kebetulan kami pernah dikasih biskuit rasa durian. Saya memang kurang menyukai, tapi bukan berarti tidak enak lho. Bagi pecinta durian pasti senang dengan rasa ini. Sempat memakan beberapa biji tapi selanjutnya kurang selera. Coba saya taruh biskuit tersebut di meja ruang keluarga. Ada satu hingga dua biji dimakan. Tapi setelah saya amati beberapa hari, biskuit tak berkurang sedikit pun. Pernah terbersit untuk dikasih makan ayam. Tapi tiba-tiba mendapatkan ide untuk memanfaatkan makanan tersebut.  Jangan Terburu-buru Membuang Makanan yang Kurang Disukai, Tapi Coba Manfaatkan Terlebih Dahulu  Saya cukup hobi membuat bola-bola coklat. Bahan utama yang digunakan biasanya biskuit regal. Nah, kali ini saya mau memanfaatkan biskui...

Masjid Suciati Saliman, Masjid yang Mengerti Kebutuhan Kaum Hawa

Bermula dari beredarnya informasi sebuah masjid megah viral di media sosial. Aku pun penasaran dan terus mengulik informasi tersebut. Lokasinya ada di Jalan Gito-gati, Pandowoharjo, Sleman, Yogyakarta. Rasanya kok tidak asing dengan nama jalan tersebut. Kalau enggak salah sekitar rumah pemotongan ayam. Meski aku asli Yogya, tapi sudah enam tahun tidak tinggal di sana sehingga mulai banyak yang lupa. Setelah aku tanyakan ke keluarga di Yogya, ah ternyata benar! Lokasi masjid hanya berjarak sekira 1,5 km dari rumah orangtuaku. Cukup dekat bukan. Pertama kali datang ke Masjid Suciati Saliman tahun 2018. Beberapa bulan setelah diresmikan. Kemegahan masjid ini sudah tampak. Arsitektur bangunan ini perpaduan Timur Tengah dan Jawa. Mirip dengan Masjid Nabawi jika dilihat dari pintu berlapis emas dan beberapa menara yang menjulang tinggi. Saat malam hari tampak keindahan cahaya lampu berwarna hijau dari menara masjid.   Dulu sekira tahun 2012-2013 sepekan sekali a...